Berbagai Sisi Kelebihan dan Kekurangan Google Pixel 7 Pro

Berbagai Sisi Kelebihan dan Kekurangan Google Pixel 7 Pro

Meski belum resmi melangkah ke tanah air, kehadiran Google Pixel 7 Pro tetap menjadi sorotan yang menarik bagi para penggemar teknologi di Indonesia.

Google, sebagai raksasa teknologi dunia, selalu konsisten dalam menjaga “kemurnian” sistem operasi Android pada setiap seri HP Pixel yang mereka luncurkan. Hal ini tentu bukan tanpa alasan.

Sebagai pencipta Android, Google memiliki visi untuk memberikan pengalaman sistem operasi yang bersih, cepat, dan tanpa bloatware kepada pengguna.

Dengan demikian, kamu bisa merasakan Android dalam bentuk yang paling otentik, sebagaimana yang diharapkan oleh para pengembangnya.

Namun, Google Pixel 7 Pro tidak hanya mengandalkan keunggulan sistem operasinya saja. Di balik layarnya, ponsel ini dilengkapi dengan berbagai fitur unik dan eksklusif yang sulit ditemukan pada ponsel flagship lainnya.

Fitur-fitur tersebut dirancang khusus untuk meningkatkan kenyamanan dan produktivitas pengguna.

Selain itu, Pixel 7 Pro juga didukung oleh chipset generasi terbaru yang menawarkan performa yang lebih cepat, responsif, serta kapabilitas AI yang jauh lebih canggih dibandingkan dengan seri-seri sebelumnya.

Hal ini tentu menjadikan Pixel 7 Pro sebagai salah satu ponsel paling powerful di pasaran.

Kelebihan Google Pixel 7 Pro

Google, sebagai salah satu perusahaan teknologi terdepan di dunia, dikenal sebagai pencipta sistem operasi Android.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Google Pixel 7 Pro menawarkan berbagai keunggulan yang membedakannya dari produk lain di pasaran.

  1. Performa Unggulan dengan Chipset Google Tensor G2

Ketika banyak produsen smartphone memilih untuk menggunakan chipset dari Qualcomm atau MediaTek, Google memutuskan untuk mengandalkan chipset buatan sendiri, yaitu Google Tensor G2, baik untuk varian Pixel 7 reguler maupun Pro.

Chipset ini dirancang untuk bersaing di segmen flagship dan dibuat dengan teknologi fabrikasi 5 nm oleh Samsung. Meski begitu, dari segi efisiensi daya, Google Tensor G2 sedikit tertinggal dibandingkan dengan Snapdragon 8 Gen 1 yang menggunakan fabrikasi 4 nm.

Google Tensor G2 menawarkan peningkatan signifikan dari pendahulunya. Chipset ini dilengkapi dengan dua unit utama Cortex X1 dengan kecepatan 2.85 GHz.

Selain itu, terdapat dua inti Cortex A78 dengan kecepatan 2.35 GHz untuk kinerja tinggi dan enam inti Cortex A55 dengan kecepatan 1.8 GHz untuk efisiensi daya.

Ini merupakan lonjakan performa dari Google Tensor sebelumnya yang menggunakan Cortex A76 sebagai inti kinerja tingginya.

Namun, jika kita membandingkan dengan Snapdragon 8 Gen 1, Google Tensor G2 masih memiliki beberapa kekurangan. Snapdragon 8 Gen 1 memiliki generasi mikro arsitektur prime core yang lebih baru, yaitu ARM Cortex X2, sementara Google Tensor G2 hanya menggunakan Cortex X1.

Selain itu, versi Plus dari Snapdragon 8 Gen 1 memiliki kecepatan clock yang lebih tinggi, yaitu 3.2 GHz, dibandingkan dengan 2.85 GHz pada Google Tensor G2.

Dari sisi grafis, Google memilih kartu pengolah grafis Mali G710 MP7 dari generasi Valhall untuk memastikan proses rendering grafis berjalan cepat dan mulus.

Google mengatakan bahwa GPU ini menawarkan peningkatan performa sekitar 20 persen dibandingkan dengan Mali G78 yang digunakan pada Google Tensor generasi sebelumnya.

Selain itu, kemampuan machine learning dari GPU ini juga meningkat sekitar 35 persen.

Untuk mendukung kinerja chipset, Google Pixel 7 Pro dilengkapi dengan memori internal UFS 3.1 dengan kapasitas mulai dari 128 GB hingga 512 GB.

Sementara RAM yang digunakan adalah tipe LPDDR5 dengan kapasitas antara 8 GB hingga 12 GB.

Berdasarkan data dari Nano Review, Google Tensor G2 pada Google Pixel 7 Pro dan Pixel 7 mendapatkan skor benchmark AnTuTu v9 sebesar 800.760 poin.

Ini menunjukkan peningkatan sekitar 8 persen dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang mendapatkan skor sekitar 740.780 poin.

Dalam hal gaming, Google Pixel 7 Pro menunjukkan kinerja yang cukup memuaskan. Meskipun mungkin tidak sebanding dengan pesaing seperti Galaxy S22+ atau Ultra, atau perangkat dengan Snapdragon 8 Gen 1, Pixel 7 Pro tetap mampu menjalankan game-game berat dengan lancar.

Sebagai contoh, pada pengujian dengan game Genshin Impact, perangkat ini mampu menjalankannya dengan pengaturan grafis tinggi pada 60 FPS, meskipun mungkin ada beberapa drop frame di sana-sini.

Selain itu, Pixel 7 Pro juga mampu menjalankan berbagai game lain dengan kualitas grafis tertinggi, seperti Diablo Immortal dan Minecraft, serta emulator game seperti PSP dan PS2 dengan resolusi tinggi dan frame rate yang stabil.

  1. Kualitas Layar yang Menakjubkan dan Detail

Google Pixel 7 Pro menonjol dengan layarnya yang luar biasa, menampilkan panel LTPO AMOLED dengan ukuran diagonal 6,7 inci yang menawarkan resolusi QHD+ (1440 x 3120 piksel).

Resolusi ini memastikan tampilan yang tajam dan detail, memberikan pengalaman visual yang memanjakan mata.

Salah satu fitur unggulan dari layar ini adalah refresh rate 120 Hz. Dengan kecepatan refresh rate ini, kamu akan mendapatkan animasi dan transisi yang sangat mulus, memberikan respons yang cepat saat berinteraksi dengan layar.

Teknologi LTPO yang digunakan memungkinkan layar untuk secara dinamis menyesuaikan refresh rate-nya berdasarkan konten yang ditampilkan.

Ini berarti saat kamu sedang membaca atau melihat konten statis, refresh rate bisa turun hingga 10 Hz, menghemat konsumsi daya.

Ditambah lagi, layar ini mendukung sertifikasi HDR10+, memastikan kualitas tampilan dengan rentang dinamis yang lebih luas, memberikan detail yang lebih baik pada area gelap dan terang.

Dengan tingkat kecerahan maksimal yang mencapai 1000 nit pada mode High Brightness dan puncak di 1500 nit, layar ini menjamin keterbacaan yang jelas bahkan di bawah sinar matahari langsung.

Jika dibandingkan dengan pesaingnya, seperti Samsung Galaxy S22 Ultra 5G, kedua perangkat ini memiliki banyak kesamaan dalam hal kualitas layar.

Namun, ada beberapa perbedaan kunci, seperti ukuran layar Galaxy S22 Ultra yang sedikit lebih besar, yaitu 6,8 inci, dan penggunaan teknologi Dynamic AMOLED 2X daripada LTPO.

Menariknya, Google memilih untuk menyederhanakan pengaturan warna pada Pixel 7 Pro. Kamu hanya diberikan dua pilihan mode warna: Adaptive (DCI-P3) dan Natural (sRGB).

Mode Adaptive direkomendasikan untuk menonton video atau gambar, memberikan warna yang lebih hidup dan mendalam.

Sementara mode Natural lebih cocok untuk mereka yang bekerja dengan konten kreatif, memastikan warna yang ditampilkan sesuai dengan standar industri.

  1. Kamera Triple 50 MP yang Menghasilkan Foto Berkualitas Tinggi

Google Pixel 7 Pro menonjol dengan kemampuan fotografinya yang luar biasa. Dengan tiga kamera belakang yang fungsional, setiap lensa dirancang untuk tujuan tertentu, memastikan hasil foto yang optimal.

Kamera utama memiliki sensor wide-angle 50 MP dengan bukaan f/1.9 dan ukuran sensor 1/1.31 inci. Teknologi Quad Bayer yang digunakan memungkinkan output gambar 12,5 MP yang tajam dan detail.

Fitur OIS dan multi-directional PDAF memastikan hasil foto yang stabil dan fokus yang cepat.

Kamera kedua, dengan sensor 48 MP, dirancang khusus untuk fotografi telefoto. Dengan bukaan f/3.5, focal length 120 mm, dan ukuran sensor 1/2.55 inci, kamera ini mampu memberikan pembesaran optik hingga 5x.

Ini memungkinkan kamu untuk mendekatkan subjek tanpa kehilangan detail. OIS juga hadir di lensa ini untuk memastikan hasil foto yang stabil saat melakukan zoom.

Kamera ketiga, dengan sensor ultrawide 12 MP, menawarkan sudut pandang 126 derajat, memungkinkan kamu untuk mengambil foto dengan cakupan yang lebih luas tanpa perlu menggunakan mode panorama.

Kamera depan, dengan sensor 10,8 MP, juga memiliki kemampuan merekam video hingga resolusi 4K, ideal untuk wefie atau video call dengan kualitas tinggi.

Meskipun konfigurasi kamera Pixel 7 Pro mirip dengan Google Pixel 6 Pro, ada beberapa peningkatan yang patut diperhatikan, seperti sudut penglihatan yang lebih luas pada sensor ultrawide dan peningkatan pembesaran optik. Dengan chipset baru, kualitas foto di Pixel 7 Pro tentu saja meningkat.

  1. Fitur Eksklusif dan Inovatif

Meskipun Google Tensor G2 mungkin tidak sekuat Snapdragon 8+ Gen 1 dalam hal performa, kemampuannya dalam pemrosesan neural untuk fotografi sangatlah impresif.

Kemampuan AI chipset ini juga telah meningkatkan teknologi speech recognition.

Fitur Direct My Call memungkinkan kamu untuk melihat daftar perintah saat menelepon nomor bisnis, memudahkan interaksi dengan operator otomatis. Namun, perlu dicatat bahwa fitur ini mungkin hanya tersedia di beberapa wilayah.

Ketika kamu tidak bisa mengetik, fitur Assistant Voice Typing dapat mengubah suara menjadi teks dengan akurasi yang tinggi.

Kamu bahkan bisa memasukkan emoji hanya dengan mengucapkannya. Misalnya, dengan mengatakan “winky emoji”, AI akan memasukkan emoji berkedip ke dalam teks.

Fitur transcribe memungkinkan kamu untuk mengubah pesan suara menjadi teks, sangat berguna saat menerima voice note dari teman.

Selain itu, fitur Magic Eraser di Pixel 7 Pro memungkinkan kamu untuk menghapus objek yang tidak diinginkan dari foto, seperti orang atau hewan yang tidak sengaja masuk ke dalam frame.

Google Pixel 7 Pro juga menjadi salah satu ponsel pertama yang diluncurkan dengan Android 13.

Berbeda dengan banyak ponsel lain yang dilengkapi dengan bloatware, Pixel 7 Pro menawarkan pengalaman Android yang murni dan tanpa gangguan.

  1. Konektivitas Canggih yang Menjadi Standar Ponsel Flagship, Termasuk Sensor UWB

Ketika berbicara tentang ponsel flagship, salah satu hal yang paling menonjol adalah konektivitasnya yang lengkap dan canggih.

Salah satu teknologi yang saat ini sedang naik daun adalah Ultra Wide Band (UWB).

Teknologi ini memungkinkan kamu untuk menggunakan smartphone sebagai kunci digital, misalnya untuk membuka pintu mobil.

Keunggulan UWB terletak pada kemampuannya mendeteksi jarak dan lokasi objek dengan akurasi yang sangat tinggi.

Namun, UWB bukanlah satu-satunya fitur konektivitas yang ditawarkan oleh Pixel 7 Pro.

Ponsel ini juga dilengkapi dengan NFC yang memungkinkan kamu untuk melakukan berbagai transaksi digital, seperti pembayaran tanpa kontak atau pengisian saldo eMoney.

Dukungan untuk jaringan 5G, WiFi 6E, dan Bluetooth 5.2 dengan fitur tambahan seperti A2DP, aptX HD, dan LE memastikan koneksi yang cepat dan stabil.

Selain itu, port USB Type-C 3.2 memastikan transfer data dengan kecepatan tinggi.

  1. Desain Eksklusif yang Membedakan Google Pixel dari Ponsel Lain

Desain adalah salah satu aspek yang membuat Google Pixel 7 Pro berbeda dari ponsel lain. Meskipun banyak ponsel yang menempatkan modul kamera di pojok dengan bentuk persegi panjang, Google Pixel 7 Pro memilih untuk menempatkannya di tengah dengan susunan horizontal.

Ini menunjukkan bahwa desain ini telah menjadi ciri khas dari seri Google Pixel.

Salah satu perbedaan yang mencolok antara Pixel 7 Pro dan Pixel 6 Pro adalah warna camera bar.

Jika pada Pixel 6 Pro camera bar berwarna hitam untuk semua varian warna, Pixel 7 Pro menawarkan varian warna Hazel dengan camera bar berwarna coklat keemasan.

Material yang digunakan untuk camera bar juga telah ditingkatkan menjadi aluminium, memberikan kesan yang lebih premium.

Meskipun memiliki bobot 212 gram dan ketebalan 8,9 mm, Google Pixel 7 Pro menawarkan kenyamanan yang cukup saat digenggam.

Namun, beberapa pengguna mungkin merasa ponsel ini sedikit licin, mungkin karena tekstur finishing yang digunakan.

Dari segi ketahanan, Pixel 7 Pro dilengkapi dengan Gorilla Glass Victus yang tahan terhadap benturan dan sertifikasi tahan air IP68.

Desain bodi belakang ponsel ini memang cenderung menarik sidik jari, terutama pada varian warna Obsidian. Namun, pada varian Snow, sidik jari tidak terlalu terlihat.

Sedangkan untuk varian Hazel, meskipun sidik jari masih terlihat, namun tidak sejelas pada Obsidian.

Kekurangan Google Pixel 7 Pro

Meskipun Google Pixel 7 Pro menawarkan berbagai fitur menarik, ada beberapa aspek yang mungkin perlu diperhatikan.

Berikut adalah beberapa poin yang mungkin menjadi pertimbangan bagi kamu yang berencana untuk membeli ponsel ini:

  1. Ketahanan Baterai yang Belum Optimal

Google Pixel 7 Pro dilengkapi dengan baterai berkapasitas 5.000 mAh, sebuah kapasitas yang sebenarnya sudah menjadi standar di industri smartphone saat ini.

Namun, dengan spesifikasi layar QHD+ dan refresh rate 120 Hz, tentu menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga agar baterai tetap tahan lama.

Google Pixel 7 Pro mencatat skor endurance rating sebesar 83 jam. Dalam pengujian, ponsel ini mampu bertahan hingga 24 jam 29 menit untuk panggilan telepon, 12 jam 38 menit untuk browsing, dan 17 jam 14 menit untuk pemutaran video.

Sebagai patokan, banyak yang berpendapat bahwa smartphone dengan skor endurance rating di bawah 100 jam kurang ideal, terutama untuk ponsel flagship.

Sebagai perbandingan, iPhone 14 dengan kapasitas baterai 3.279 mAh mencatat skor endurance rating 90 jam, sedangkan beberapa pesaing lain seperti Samsung Galaxy S22 Plus dan OnePlus 10 Pro mencatat skor yang lebih tinggi.

Menariknya, Google Pixel 6 Pro, pendahulu dari Pixel 7 Pro, dengan kapasitas baterai yang hampir sama, mencatat skor endurance rating 84 jam, sedikit lebih baik dari Pixel 7 Pro.

Dalam pengujian lain dengan resolusi layar Full HD+ dan refresh rate 60 Hz, durasi browsing meningkat menjadi 14 jam 7 menit.

Namun, meskipun Google Pixel 7 Pro menggunakan panel LTPO yang diklaim dapat menyesuaikan refresh rate hingga 10 Hz, pengujian menunjukkan bahwa layar lebih sering beroperasi pada 60 Hz atau 120 Hz.

Hal ini mungkin menjadi salah satu penyebab cepatnya konsumsi baterai. Meskipun demikian, kita masih bisa berharap bahwa masalah ini dapat diatasi dengan pembaruan perangkat lunak di masa mendatang.

  1. Kemampuan Fast Charging yang Tidak Mengikuti Tren Saat Ini

Ketika berbicara tentang kemampuan pengisian daya cepat, Google Pixel 7 Pro tampaknya memilih untuk tetap pada spesifikasi sebelumnya. Ponsel ini masih mengandalkan daya pengisian 23 W, sama seperti model tahun sebelumnya.

Meskipun Google mengatakan bahwa dalam waktu 30 menit, baterai dapat terisi hingga 50%, namun jika dilihat dari perspektif saat ini, 23 W terasa kurang memadai untuk ponsel flagship.

Banyak ponsel di pasaran yang menawarkan kemampuan pengisian daya dengan kecepatan 120 W, 150 W, bahkan 180 W. Bahkan, beberapa ponsel dengan harga lebih terjangkau sudah menawarkan daya pengisian 33 W.

Menurut beberapa pengujian, 30 menit pengisian dapat mengisi baterai dari 0% hingga 46%, hampir sesuai dengan klaim Google.

Namun, untuk mengisi penuh baterai, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam 49 menit. Google Pixel 7 Pro juga menawarkan fitur wireless charging dengan daya 23 W dan fitur pengisian daya nirkabel terbalik.

  1. Kurangnya Dukungan untuk Perekaman 8K

Dalam era konten digital saat ini, kemampuan perekaman video berkualitas tinggi menjadi salah satu fitur yang dicari oleh banyak pengguna.

Meskipun perekaman 4K mungkin sudah cukup bagi sebagian besar pembuat konten, namun untuk kebutuhan pengeditan yang lebih detail, perekaman 8K memberikan keunggulan tersendiri.

Sayangnya, Google Pixel 7 Pro tidak mendukung perekaman 8K. Sebagai perbandingan, beberapa pesaingnya seperti Samsung Galaxy S22 Plus sudah mendukung perekaman 8K.

  1. Minimnya Peningkatan dari Model Sebelumnya

Salah satu hal yang mungkin menjadi pertimbangan bagi calon pembeli adalah seberapa besar peningkatan yang ditawarkan oleh sebuah ponsel dari model sebelumnya.

Dalam hal ini, Google Pixel 7 Pro tampaknya tidak menawarkan banyak peningkatan dari Google Pixel 6 Pro.

Beberapa masalah yang ada pada model sebelumnya, seperti daya pengisian yang relatif lambat dan ketahanan baterai yang kurang optimal, masih tetap ada.

Oleh karena itu, bagi pengguna Google Pixel 6 Pro, mungkin akan sulit untuk melihat alasan yang kuat untuk beralih ke model terbaru ini.

Inilah beberapa sisi kelebihan dan kekurangan dari Google Pixel 7 Pro. Jadi bagaimana, sudah tertarik untuk coba langsung Google Pixel 7 Pro?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like